Isnin, 25 Oktober 2010

Hakikat Ayam

Aku duduk terpaku
Kuarahkan pandangku
Pada sekumpulan ayam yang tampak riang
Berebut sisa-sisa makanan yang aku buang
Begitu mudahnya mereka mencari makan
Mereka tampak menikmati hidup ini
Adakah mereka pernah merasa derita
Seperti yang selalu kurasa saat ini
Aku tak tahu soal itu
Kurasa tak pernah mereka menderita

Kala fajar, berbondong-bondong
Keluar kandang dengan perut kosong
Berlarian mencari tumpukan sampah
Kaki menggaruk, paruh mematuk
Cara yang gampang tuk kais makanan
Sambil bercanda mereka menikmati hidup ini
Ketika senja hadir, kembali ke kandang
Berlarian dengan perut kenyang
Menuju peraduan mereka bergumam
�Selamat tidur kawan�

Tangerang, 06 September 2007

Indahmu Hanyalah Maya

Kau bagai lukisan asap
Yang kukepulkan ke udara
Indah memang, namun dalam sekejap
Indahmu luruh, memudar
Seperti ombak kau tergambar
Lari kejar-mengejar
Bergulung-gulung serupa ukiran
Setelah menghantam karang kaupun hilang
Laksana bianglala kau kukira
Begitu berwarna, penuh dengan pemuja
Tersebab kau sungguh menawan
Tapi, pernahkah kau hadir tanpa adanya hujan?
Tak pernah? Karna indahmu hanyalah maya

Tangerang, 06 September 2007

Follow by Email