Ahad, 14 April 2013

The Tielman Brothers, Band Rock Tertua Di Dunia Asal Indonesia


Apakah nama band rock tertua di dunia? Pasti yang ada dibenak kalian adalah The Beatles, The Doors, The Rolling Stones, Led Zeppeline, dll. Tetapi tak banyak yang mengingat bahwa band rock tertua di dunia adalah The Tielman Brothers. Dan tahukah kamu bahwa band rock ini berasal dari Indonesia! Mari kita simak sejarahnya.


Awal Karir : Jauh sebelum The Beatles, The Rolling Stones, Elvis Presley, dll mulai muncul di awal tahun 60-an, di Surabaya � Indonesia sekitar tahun 1945 Andy Tielman (guitar,vocal), Reggy Tielman (banjo,guitar,vocal), Ponthon tielman (double bass,guitar,vocal), Loulou Tielman (Herman Lawrence)(drum,vocal) dan Jane Tielman (Janette Loraine)(vocal) resmi membentuk grup band yang diberi nama The Timor Tielman Rhytm Brothers. Mewarisi talenta musik dari orang tuanya Herman Tielman dan Flora Lorine Hess, mereka benar-benar memulai karir pada tahun 1956 dengan hijrah ke Breda, Belanda. Pada saat itulah Tielman Brothers pun menjadi printis musik Rock and Roll pertama di Belanda dan yang pada akhirnya mereka pun menciptakan �Indo-Rock�. Mereka begitu terkenal di Belanda dan negara � negara Eropa lainnya, namun sangat disayangkan nama mereka kurang dikenal di Indonesia.


Inspirasi Bagi Band Rock Tahun 60-an : Aksi mereka dipanggung bisa dibilang sangat aktraktif, seperti memainkan gitar dengan kaki, gigi, meloncat � loncat,dll. Jika banyak orang yang terpukau dengan permainan gitar yang gila dari Jimi hendrix di tahun 60-an, maka semua teknik permainan seperti itu sudah lebih dulu diperkenalkan oleh Andy Tielman sang Frontman dari band ini. Disebut-sebut Tielman Brothers adalah inspirasi bagi band-band legendaris tahun 60-an .
The Beatles Fans Tielman Brothers : Pemain Bass The beatles, Paul McCartney adalah penggemar band ini dan menginspirasi terbentuknya The Beatles di awal tahun 60-an. Saat The Tielman Brothers manggung pertama kali di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat penampilan The Tielmans Brothers. Dan saat itulah untuk pertamakalinya Paul melihat Bass Violin Hofner. Andy Tielmans sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Fender sengaja mengirim representative-nya ke Jerman saat itu untuk merancang gitar buat Andy Tielmans.

Akhir Karir : Namun sangat disayangkan, di tahun 1976 band ini dikabarkan bubar karena boleh dikatakan permainan musik mereka terkesan mandek dan tidak ada perkembangan alias kurang eksploratif. Mereka bermain musik di tataran yang itu-itu saja, dan itulah yang akhirnya membuat publik menjadi bosan. Meskipun begitu, karya mereka sampai sekarang masih sangat digemari di luar negeri, terutama di Belanda.







Sumber

Sejarah Preman Indonesia Sejak Jaman Kerajaan

Fenomena kekerasan dalam masyarakat Jawa kuno dapat diketahui melalui kajian arkeologi dari sumber-sumber tertulis berupa prasasti, lontar, dan naskah-naskah. Adapun penggambaran dalam beberapa panil relief candi terdapat di Candi Mendut di Jawa Tengah serta Candi Surawana dan Rimbi di Jawa Timur.

Pemerintah kini sedang disibukkan oleh ulah para preman yang sering mengganggu ketenteraman dan segala bentuk ketidaknyamanan bagi masyarakat. Polisi sebagai pengayom masyarakat harus bekerja keras dan menumpas habis segala bentuk kejahatan. Namun, usaha itu akan sia-sia jika tidak didukung sepenuhnya oleh masyarakat. Gambaran ini juga terjadi pada masa pemerintahan kerajaan besar seperti Sriwijaya, Kediri, Singosari, dan Majapahit.


Pada masa Jawa kuno, serangkaian undang-undang dan hukum berupa pemberian sanksi yang keras diberlakukan tidak saja pada pelaku kejahatan, tetapi juga warga yang desanya sebagai tempat kejadian perkara (TKP). Sanksi yang diberikan kepada desa-desa tersebut berupa denda dan pajak yang sangat memberatkan. Oleh karena itu, penduduk desa membuat pos-pos keamanan untuk meminimalisir kejahatan. Walaupun upaya itu telah dilakukan, masih sering terjadi karena faktor alam dan lingkungan berupa hutan lebat dan terisolirnya dari pusat pemerintahan.

Naskah-naskah hukum (awig-awig) banyak ditemukan di Bali dan ditulis dalam bahasa Jawa kuno dari masa pasca-Majapahit. Naskah yang ditulis dan diterjemahkan oleh para sastrawan tersebut diacu dari institusi kerajaan di India yang diperlukan dalam menjalankan pemerintahan.

Dapat dibayangkan bahwa naskah-naskah hukum yang digunakan oleh para pejabat keha****n dari masa klasik (Hindu-Buddha) tidak semuanya ditulis di atas logam, tembaga, atau perunggu karena tidak praktis dan terlalu berat. Biasanya ditulis di atas ripta berupa daun lontar atau karas. Setelah berpuluh-puluh tahun ripta tersebut dapat rusak dan disalin kembali serta dilakukan perubahan, penambahan, atau pengurangan pasal-pasal sesuai dengan perubahan bahasa dan perkembangan masyarakat.

Adanya naskah hukum tadi memberikan gambaran yang jelas bahwa masyarakat Jawa kuno bukanlah suatu masyarakat yang senantiasa aman, tenteram, dan damai, jauh dari segala tindak kejahatan.
Kejahatan dari masa ke masa

Sumber-sumber hukum yang tertulis dalam prasasti abad ke-9-10 Masehi di Jawa Tengah pada masa Dyah Balitung dan naskah pada masa pasca-Majapahit abad ke-13-15 Masehi memuat tentang hukum dan kerawanan-kerawanan yang pernah terjadi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
Pertama, prasasti Balingawan berangka tahun 891 M dari bahan batu yang ditulis berlanjut pada bagian belakang sebuah arca Ganesa (disimpan di Museum Pusat Jakarta). Prasasti ini memuat penetapan sebidang tanah di Desa Balingawan menjadi sima (daerah perdikan/otonom). Prasasti itu lahir karena rakyatnya ketakutan, menderita, dan melarat lantaran senantiasa harus membayar pajak denda atas rah kasawur (darah tersebar berceceran) dan wankay kabunan (mayat kena embun).

Hal itu terjadi karena dalam hukum Jawa kuno desa-desa yang menjadi tempat berlangsungnya peristiwa kriminal (walaupun peristiwanya terjadi di tempat lain, tetapi mayatnya ditemukan di desa tersebut) maka desa yang bersangkutan (TKP) mendapat sanksi keras harus membayar denda/pajak kepada raja. Kenapa peristiwa semacam itu bisa terjadi?


ilustrasi

Hal tersebut berkaitan erat dengan sistem dan struktur pemerintahan desa yang bergantung pada hierarki pemerintahan di atasnya sehingga untuk pengamanan desa menjadi kurang efektif. Akhirnya, permohonan desa tersebut dikabulkan. Desa Balingawan menjadi sebuah sima, keamanan di jalan besar terjamin, rakyat desa dan dukuh-dukuhnya tidak lagi merasa ketakutan.

Kedua, prasasti Mantyasih (907 M) yang ditulis dalam tiga versi berbeda, dua di antaranya ditulis di atas lempengan perunggu dan satu di atas batu, tetapi yang terlengkap yang ditulis di atas lempengan perunggu. Isi prasasti berkisar tentang penetapan sima dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung kepada 5 patih yang telah berjasa mengerahkan rakyat Desa Mantyasih pada waktu diselenggarakan pesta perkimpoian raja. Pada suatu ketika, rakyat desa merasa ketakutan oleh ulah para penjahat dan mereka tidak dapat mengatasinya. Kelima patih diberi tugas untuk menumpas dan menjaga keamanan di jalan. Daerah ini pada masa Jawa kuno terletak di sekitar Gunung Susundara (Sundara) dan Gunung Sumbing di wilayah Temanggung, Jawa Tengah.


Ketiga, prasasti Kaladi (909 M). Prasasti ini juga bermasa dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Isinya tentang pemberian sima atas permohonan pejabat daerah yang bernama Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi karena ada hutan arapan yang memisahkan (desa-desa) itu menyebarkan ketakutan. Mereka senantiasa mendapat serangan dari Mariwun yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan ketakutan siang dan malam. Maka diputuskan bersama, hutan itu dijadikan sawah agar penduduk tidak lagi merasa ketakutan.

Keempat, prasasti Sanguran (928 M). Berisikan beberapa hal yang menyangkut kejahatan, di antaranya: wipati wankay kabunan (kejatuhan mayat yang terkena embun), rah kasawur in dalan (darah yang terhambur di jalan), wakcapala (memaki-maki), duhilatan (menuduh), hidu kasirat (meludahi), hastacapala (memukul dengan tangan), mamijilakan turuh nin kikir (mengeluarkan senjata tajam), mamuk (mengamuk), mamumpan (tindak kekerasan terhadap wanita), ludan (perkelahian?), tutan (mengejar lawan yang kalah?), danda kudanda (pukul-memukul), bhandihaladi (kejahatan dengan menggunakan kekuatan magis).


Kelima, naskah Purwwadhigama. Sistem pengadilan zaman klasik membagi segala macam tindak pidana dan perdata ke dalam 18 jenis kejahatan yang disebut astadasawyawahara. Penulisan ke-18 hukum tersebut tidak selalu lengkap, kadang hanya garis besarnya, mungkin beberapa hal yang dianggap penting/sesuai dengan kondisi saat itu.

Hukum tersebut berisikan: tan kasahuranin pihutan (tidak membayar lagi utang), tan kawahanin patuwawa (tidak membayar uang jaminan), adwal tan drwya (menjual barang yang bukan miliknya), tan kaduman ulihin kinabehan (tidak kebagian hasil kerja sama), karuddhanin huwus winehakan (minta kembali apa yang telah diberikan), tan kawehanin upahan (tidak memberi upah atau imbalan), adwa rin samaya (ingkar janji), alarambaknyan pamalinya (pembatalan transaksi jual-beli), wiwadanin pinanwaken mwan manwan (persengketaan antara pemilik ternak dan penggembalanya), kahucapanin watas (persengketaan mengenai batas-batas tanah), dandanin saharsa wakparusya (hukuman atas penghinaan dan makian), pawrttinin malin (pencurian), ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami-istri), kadumanin drwya (pembagian hak milik atau pembagian warisan), totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian).

Dari 18 aturan hukum pidana tersebut, ada tiga yang sedang marak terjadi saat ini, seperti ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami istri), serta totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian).

Relief candi

Beberapa candi yang memuat adegan kekerasan dapat dilihat di Candi Mendut, Jawa Tengah, bercorak Buddhis. Pada tangga masuk di sisi selatan candi peninggalan abad ke-9-10 M itu terdapat panil relief yang menggambarkan dua figur, salah satunya memegang gada/parang (?), sedangkan figur yang satunya memegang alat semacam perisai.

Di Jawa Timur, panil-panil relief yang menggambarkan kekerasan dapat dilihat pada Candi Surawana (Pare, Kediri), merupakan peninggalan sekitar abad ke-14 M, bercorak keagamaan Buddhis. Pada bagian kaki candi sisi utara terlihat relief yang menggambarkan adegan kekerasan/perkelahian, yakni seorang tokoh sedang memilin kepala seseorang. Sementara pada Candi Rimbi di Bareng, Jombang, (peninggalan abad ke-13-14 M), pada bagian kaki candi, di sisi selatan, terdapat gambar dua pria sedang berkelahi di tengah hutan dengan menggunakan kain cancut.

Fenomena masyarakat Jawa kuno tentang dunia kekerasan tidak terlepas dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik. Para penguasa pada masa itu sudah mengindahkan aturan-aturan dan nilai-nilai hidup yang harmonis berupa pandangan hidup berdasarkan kepercayaan/agama. Aturan-aturan tersebut disosialisasikan dengan cara pembuatan prasasti dan gambar-gambar pada relief candi yang sarat akan pesan-pesan moral dan etika, sebagai tuntunan hidup manusia.

Walaupun peraturan dengan segala sanksi hukum begitu kerasnya, bahkan desa-desa dalam wilayah kekuasaan kerajaan tertentu juga harus berperan aktif dalam menjaga ketertiban, tetapi masih sering terjadi tindak kekerasan. Apalagi jika penegakan hukum tidak diimbangi dengan disiplin dan dedikasi dari aparatur pemerintah beserta kesadaran seluruh masyarakatnya, niscaya tindak kekerasan masih sering terjadi di mana-mana, bahkan secara kualitas dan kuantitas semakin merebak di negeri ini.

Sumber

Ada Juga Liga Bola Basket Khusus Nenek-nenek

Di Amerika Serikat ini memang banyak hal aneh yang dijumpai atau saksikan sendiri. Mulai dari jam yang bisa ditambah atau dikurang satu jam tiap tahun, cuaca yang ekstrim yang merentang dari -30F sampai ke 100F, sampai ke teman yang menikah dengan sesama jenisnya di samping sungai.



Liga Bola Basket Nenek-Nenek.? Awalnya, hanya sebatas sekumpulan nenek-nenek di panti jompo yang bermain bola basket untuk mengisi waktunya. Ternyata, liganya memang sungguhan, walaupun masih bersifat lokal.

Menurut penuturan Barbra McPherson (62 tahun), liga bola basket nenek-nenek ini diprakarsai pada tahun 2005 untuk para nenek yang ingin memiliki komitmen yang sama untuk berolahraga. Dari segi usia, nenek-nenek yang berpartisipasi dalam liga ini cukup beragam, mulai dari yang berusia 50 tahun sampai 81 tahun.

Bola basket nenek-nenek ini memiliki aturan yang cukup beda dengan basket yang biasanya. Katanya, peraturannya dicutat dari aturan permainan basket awal 1900-an. Setiap tim beranggotakan enam pemain dan lapangan dibagi menjadi tiga bagian. Uniknya, setiap pemain memiliki tempat khusus di lapangan dan harus tetap di situ selama pertandingan. Tidak ada istilahnya berlari apalagi melompat (bisa gawat akibatnya). Pun, tidak ada kontak fisik. Apalagi seorang pemain melakukan pelanggaran tiga kali, otomatis dia tidak bisa main lagi dalam pertandingan tersebut. Lama pertandingan delapan menit per babak dengan satu kali timeout. Untuk sistem perhitungan poinnya tidak berbeda dengan permainan basket profesional.

Liga bola basket nenek-nenek ini membantu para manula di negara bagian Iowa untuk lebih bersosialisasi dan tentu saja membuat mereka untuk tetap sehat. Sebagian besar dana yang terkumpul dari liga ini disalurkan untuk membantu pendanaan rumah sakit dan badan amal lokal. Tahun kemarin, liga ini sudah berhasil menasional dan diikuti oleh 68 nenek-nenek.

Sumber

Follow by Email