Selasa, 18 Oktober 2016

Sadis !!! Tak Di Izinkan Menikah Lagi , Suami Tega Bakar Istri

Sadis !!! Tak Di Izinkan Menikah Lagi , Suami Tega Bakar Istri

SEBARKANBERITA


Sadis !!! Tak Di Izinkan Menikah Lagi , Suami Tega Bakar Istri

Garut - Susi Hikmah (40) seorang ibu rumah tangga di Garut, Jawa Barat diduga dibakar hidup-hidup oleh DS suaminya. Warga Desa Binakarya, Kecamatan Banyuresmi, Garut .Susi mengalami luka bakar serius di hampir sekujur tubuhnya.

Seperti informasi yang berhasil di himpun oleh tim sebarkanberita.com, pada Senin (17/10/2016), sebelumnya Susi sempat tergolek lemah di ruang perawatan RSUD Dokter Slamet Garut. Namun karena kondisinya terus memburuk Susi akhirnya dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung pada Selasa (18/10/2016) pada pukul 13.00 Wib.

DS diduga membakar istrinya lantaran keinginannya untuk menikah lagi dengan wanita idaman lain ( WIL ) ditolak mentah - mentah oleh sang istri yaitu Susi. DS juga menghendaki agar harta warisan yang mereka miliki bersama dijual untuk modal dirinya dan kekasih hatinya menikah.

Enok yang merupakan kakak kandung korban meminta pelaku dihukum dengan setimpal.

Saat ini polisi terus mendalami kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ini dan sudah mengamankan pelaku DS.





Wanita Ini Kaget Lihat Pampers Anaknya Berdarah, Ternyata Terjadi Hal yang Mengerikan

Wanita Ini Kaget Lihat Pampers Anaknya Berdarah, Ternyata Terjadi Hal yang Mengerikan

SEBARKANBERITA



sebarkanberita.com - Setiap orangtua pasti khawatir bila mengetahui anaknya terluka.
Orantua pun pasti akan bertanya penyebab anaknya terluka, terlebih bila lukanya berada di organ tubuh yang terbilang vital.

Akan lebih sulit bila ketika orangtua menemukan luka di tubuh anak yang belum bisa bicara dengan jelas, dan ingin mengetahui penyebabnya.

Seperti yang dialami orangtua yang satu ini.

Kisah orangtua ni dibagikan melalui media sosial oleh pengguna Facebook bernama " Nurul K. Zakaria ".

Di akun Facebook-nya, ia membagikan kisah curhatan seorang wanita atas apa yang terjadi dengan anaknya.


Kisah itu diungkapkan melalui sebuah percakapan di pesan singkat menggunakan bahasa melayu yang kemudian di-capture.

Capture curhatan seorang wanita yang tak disebutkan namanya itu diunggah ke lama Facebook-nya.
Dengan menggunakan bahasa melayu, ia menuliskan kalau ia telah mendapat izin untuk membagikan kisah wanita itu ke Facebook.

 


"Diatas permintaan beliau, saya bagikan untuk anda semua. Semoga menjadi pengajaran. Betul. Naluri seorang ibu sangat kuat. Kalau terbetik dalam hati ada sesuatu yang tak enak, jangan dibiarkan. Semoga beliau tabah.

Semoga urusan pengadilan disederhanakan. Semoga anaknya bisa menjalani hidup normal seperti anak-anak lain. Semoga Allah karuniakan hidup baru yang bahagia untuk mereka berdua."

Begitu kira-kira keterangan yang dituliskan di unggahan itu dalam bahasa Indonesia.
Kisah orangtua malang itu berawal ketika wanita itu mengungkapkan ia memiliki seorang putri yang masih balita.

Selama ini, wanita itu menitipkan anaknya ke rumah mertuanya untuk.

Sebab selama ini ia bekerja begitu juga dengan suaminya.
Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi.

"Pernah sekali saya menemukan pampers anak saya berdarah dan dia menangis. Saya tunjuk pada suami tapi suami, tapi suami saya bilang kalau kemaluan anak perempuan berdarah itu adalah hal biasa saja. Tapi anak saya menangis menahan rasa sakit dan sudah banyak kali terjadi," kata wanita itu dalam capture-an percakapan dengan menggunakan bahasa melayu.

"Saya beritahukan pada suami bahwa apa yang terjadi pada anak, itu tidaklah normal. Saya menduga ada orang memegang kemaluan anak saya. Suami saya pun bertanya pada ibunya dan memberi tahu bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Bahkan saya juga bertanya pada anak saudara lelaki yang ada di rumah ibu mertua agar tidak mengganggu anak saya, namun mereka semua tidak mengaku, " kata wanita itu.

Bukannya dicarikan solusi, wanita itu mengaku kalau ia malah dimarahi suaminya.

Ia juga diancam bila terus menceritak nsoal anaknya, ia akan diceraikan.

"Anak saya selalu kata 'akit! Akit! '(Sakit). Hati ibu mana yang tak sedih? Saya tak ada tempat untuk mengadu dan terpaksa pendam seorang diri, " ungkapnya.

Bahkan, dia pernah mencoba untuk berhenti kerja namun dilarang oleh suaminya.
Ia pun pernah mencoba menempatkan anaknya ke tempat penitipan anak, namun hal itu juga tak diizinkan suaminya.

Wanita itu bercerita, sejak anaknya kecil suaminya jarang sekali mengurus apalagi memandikan anak perempuannya.

"Saya doa banyak-banyak, minta tuhan tunjuk pada saya apa yang terjadi sebenarnya. Berbulan-bulan saya bersabar dan satu hari tuhan tunjuk pada saya. Satu hari saya dengar dia cakap benda aneh dan tak perlulah saya ceirta apa.

Tapi saya mulai meragukan sesuatu. Suami saya tak pernah sentuh pampers anak, tapi bagaimana dia tahu ada tahi lalat di punggung anak saya? Sedangkan tengok punggung anak pun tak pernah. Saya mencoba untuk mencari tahu dengan bertanya kepada anak saya, apakah ayah pernah buka celananya?

Anak saya mengakui ayahnya yang melakukannya. Meraung saya! Patutlah dia tidak ingin saya berisik dan larang saya buat laporan polisi. Ternyata dia melakukannya pada anak sendiri," katanya.

Kini, diketahui wanita itu dalam proses perceraian dan ia tinggal bersama orangtua dan anaknya.
ia juga telah berhenti bekerja dan tak lagi berkomunikasi dengan suaminya




''Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku dan Apa yang Kudapat?''

''Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku dan Apa yang Kudapat?''

SEBARKANBERITA


''Sepuluh Tahun Aku Membenci Suamiku dan Apa yang Kudapat?''

sebarkanberita.com - Memang aneh kedengarannya, namun benar-benar ada pasangan suami istri yang malah saling membenci dan saling menyakiti setiap hari.

Jika suami istri justru saling benci, tentu saja hal ini telah menjauh dari tujuan pernikahan itu sendiri.
Kisah suami di bawah ini menjadi viral di media sosial, seperti dikutip dari eberita.org, seorang istri disebut membenci suaminya selama 10 tahun.

Hal tersebut dipicu karena ia mengaku dipaksa menikah orangtuanya dengan pria yang tidak ia cintai.
Meski terpaksa menikah, ia tak pernah menunjukkan sikap benci. Bahkan rasa benci itu muncul setiap hari. Tak membuat ia lupa dengan perannya sebagai seorang istri.

Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun bersedia dia nikahi, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain.

Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tetapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk mereka putri satu-satunya.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar- benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.

Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur. Aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket.

Aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku. Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi. Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tetapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan. Dokterpun menolak menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya.

Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan.
Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya. Saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu.

Yaah�, aku merasa terjebak dengan kesenanganku. Aku juga membenci kedua orangtuaku. Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak.

Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Setelah mereka pergi, aku memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai.

Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam, aku tak jua menemukannya.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan,aku menelepon suami dan bertanya�

�Maaf ya, Sayang! Kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu. Kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,� katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara.
Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan, meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. �Apalagi??�

�Sayang, aku pulang sekarang, Aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?� tanya suamiku cepat, sepertinya kuatir aku menutup telepon kembali.

Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.

Tapi rasa malu karena �musuh�ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam. Aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, �Selamat siang, Ibu. Apakah ibu ini istri dari Pak Armandi?�

Kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi. Ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.

Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.

Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, Serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah, ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak, teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Air mata merebak di mataku, Mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap, berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, Aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.

Tetapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tetapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makanannya, padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan.

Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak dia sukai.

Hampir seluruh keluarga kemudian tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, Karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa.

Ia pun pulang larut malam setiap hari karena jarak kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apa pun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besar membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.

Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan malah ibuku yang datang, Aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku.

Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku. Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tetapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.

Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, tetapi sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, tetapi sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tidak kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote.

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya. Aku juga marah pada diriku sendiri. Aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang.

Tak ada lagi yang mengingatkanku shalat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf; meminta ampun pada Allah Yang Maha Pengampun karena menyia-nyiakan suami yang Dia anugerahi padaku; meminta ampun karena telah menjadi isteri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.

Shalat-lah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang padaku ditunjukkanNya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belakan, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku.

Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli; yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku guna kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, Ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tetapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku:
Istriku Liliana tersayang!

Maaf karena aku harus meninggalkanmu terlebih dahulu. Maaf karena harus membuatmu bertanggungjawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah Yang Mahakuasa memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu. Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu, Sayang, selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja.

Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin Sayang dan anak-anak kita susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap Sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak- anak. Lakukanlah yang terbaik untuk mereka ya, Sayang!

Jangan menangis, Sayangku yang manja! Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku: maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah kelak isteri yang baik seperti Ibu.

Dan Farhan, ksatria kebanggaanku: jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat di manapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke!

Aku terisak membaca surat itu, Ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.
Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku pun tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkan kami selama-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, �Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri? Soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya, Bu?�

Aku merangkulnya sambil berkata, �Cinta, Sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta,kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.�

Putriku menatapku, �Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?�

Aku menggeleng, �Bukan, Sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.�

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tetapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.




Minta Uang Damai Pada Pengendara, Oknum Polisi Ini Tak Tahu Jika Ternyata yang Ditilang Adalah Sang Kapolda.

Minta Uang Damai Pada Pengendara, Oknum Polisi Ini Tak Tahu Jika Ternyata yang Ditilang Adalah  Sang Kapolda.

SEBARKANBERITA


Minta Uang Damai Pada Pengendara, Oknum Polisi Ini Tak Tahu Jika Ternyata yang Ditilang Adalah  Sang Kapolda.

PALEMBANG - Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo diinformasikan turun langsung ke lapangan dan menyamar menjadi warga sipil.

Orang nomor satu di Polda Sumsel ini sengaja melanggar dan distop anggota Polantas.
Ia diberhentikan dan dibawa ke suatu tempat untuk diproses.

Namun, ketika itulah anggota Satlantas tidak mengetahui bila itu Kapolda Sumsel.
Dan ketika meminta sejumlah uang langsung ditangkapnya sendiri.



"Adalah. Daerah mana banyak, makanya anggota yang pungli ditindak sesuai dengan kesalahannya."

"Tetapi, jangan sampai juga masyarakat memberikan kesempatan untuk mengajak damai anggota. Itu juga salah," ujarnya, Selasa (18/10/2016).

Setidaknya, sudah ada 10 anggota yang ditindak karena kedapatan melakukan pungli.
Dan salah satunya anggota yang ditangkapnya langsung di daerah.

"Ada anggota OI, Prabumulih, Polresta Palembang, OKU Timur dan beberapa daerah lain."
"Mereka akan diperiksa dan dikenakan sanksi sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan."

"Tidak semua anggota yang selalu pungli, banyak juga anggota yang baik," jelas Djoko.

Terkait adanya anggota Polresta Palembang yang ditangkap ketika melakukan pungli.

Kapolresta Palembang Kombes Pol Tommy Aria tidak menyangkal terkait adanya anggota yang tertangkap sedang melakukan pungli.



Menurut Tommy, ada anggota Sahbara yang ditangkap ketika sedang melakukan pungli dan sudah diamankan.

Dan langsung ditindak sesuai dengan tingkat kesalahannya.

"Semuanya sudah diperingatkan dan selalu diingatkan. Tidak ada yang melakukan pungli, terkecuali dengan pelayanan yang sudah diatur dalam peraturan."

"Ada pelayanan seperti pembuatan SIM dan SKCK yang memang ada biaya pembuatan resmi, di luar itu tidak ada dan bila ada itu namanya pungli," ujar Tommy ketika ditemui usai acara di Mapolda Sumsel, Selasa (18/10/2016).

Sejak dirinya memimpin di Polresta Palembang, semua anggota sudah diperingatkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik dan benar.

Selain itu, tidak diperkenankan untuk meminta imbalan terkait pelayanan yang diberikan.

Bila kedapatan, pihaknya tidak akan segan-segan menindak anggota tersebut.

"Untuk anggota yang mengamankan atau bertugas di suatu tempat acara, memang tidak ada anggaran."

"Tetapi terkadang panitia memberikan sekedar makan siang. Kasihan juga anggota, masa tidak boleh makan nasi saat siang. Mereka juga manusia," kata Tommy.





Sungguh Kejam, Wanita Ini Tega Racuni Suami Hingga Berkali-Kali Hanya Demi Kuasai Harta.

Sungguh Kejam, Wanita Ini Tega Racuni Suami Hingga Berkali-Kali Hanya Demi Kuasai Harta.

SEBARKANBERITA


Sungguh Kejam, Wanita Ini Tega Racuni Suami Hingga Berkali-Kali Hanya Demi Kuasai Harta.

sebarkanberita.com - Calita alias Hung, ibu rumah tangga ini sungguh sadis, ia tega merencanakan hal yang buruk untuk mencelakakan suaminya. Wanita ini diduga memiliki pria idaman lain, dan ia merencanakan untuk menghabisi nyawa suaminya sendiri,Mardiyanto.

Wanita 36 tahun itu mencoba melakukan pembunuhan diduga agar bisa menguasai harta dalam rumah tangganya maupun milik suaminya. Upaya pembunuhan dengan cara meracuni Mardiyanto. Bahkan upaya itu dilakukannya berulang kali.

Selain itu, juga dengan cara kekerasan fisik. Melibaskan samurai ke arah suaminya yang mengenai telinga Mardiyanto.Calita juga memukul menggunakan teko (wadah air minum), hingga melukai kening sang suami. Kasus ini ditangani Mapolresta Pontianak.

"Apa yang dilakukan pelaku ini, mengenai kening sebelah kiri dan telinga sebelah kiri suaminya. Sehingga menyebabkan luka dan mengeluarkan darah," jelas Kompol Andi Yul Lapawesean, Kasat Reskrim Polresta Pontianak.

Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) ini terjadi di kediaman Mardiyanto dan Calita, di Gang Hoki, Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara.Mardiyanto melaporkan istrinya ke Mapolresta Pontianak.

"Atas laporan itu, kita selidiki dan kita sidik," tegas Andi Yul.

Sabtu (15/10/2016), Tim Jatanras Polresta Pontianak mendapatkan informasi, Calita berada di rumah orangtuanya di Desa Kumpai Besar, Sungai Raya, Kubu Raya.Polisi menggeledah rumah orangtua pelaku dan akhirnya wanita sadis ini ditemukan.

"Sudah lama kita cari. Mendengar informasi itu, pelaku pun kita tangkap," tegasnya.

Calita langsung digelandang ke Mapolresta Pontianak. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum.

"Pelaku diperiksa dan kita tahan," tegas Andi Yul.



Personel BNN Tembak Mati Pengedar Sabusabu Di MEDAN , Begini Rentetan Kejadiannya .

Personel BNN Tembak Mati Pengedar Sabusabu Di MEDAN , Begini Rentetan Kejadiannya .

SEBARKANBERITA


Personel BNN Tembak Mati Pengedar Sabusabu Di MEDAN , Begini Rentetan Kejadiannya .

MEDAN - Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati satu dari tiga pengedar sabu asal Aceh, Selasa (18/10/2016) malam.

Adapun pengedar narkoba jenis sabusabu yang tewas itu diketahui bernama Jum.

Dari informasi diperoleh dari tim sebarkanberita.com di lapangan menyebutkan, awalnya Zum dan kedua rekannya menumpangi mobil Toyota Rush hitam BK 1804 PK datang dari arah Binjai menuju Jalan TB Simatupang, Sunggal, Medan.

Diduga, para pelaku ini sudah diintai petugas BNN sebelumnya.

Karena tak ingin buruannya kabur, petugas BNN yang sudah mengikuti para pelaku menghentikan mobil itu di Jl TB Simatupang.

Sayangnya, para pelaku berusaha melarikan diri sehingga petugas mengambil tindakan tegas dengan tembak di tempat.

Ketika petugas melesatkan tembakan, Jum yang berada di dalam mobil terkena timah panas di bagian dada. Pelaku pun langsung tewas di tempat, dan jenazahnya dibawa ke RS Bhayangkara.
Sementara itu, dua teman Jum langsung diboyong petugas BNN.

Dari dalam mobil, petugas menemukan satu koper berisi sabu yang disebut-sebut mencapai 100 Kg beserta ribuan butir pil ekstasi.

Kapolsek Sunggal, Kompol Daniel Marunduri yang turun ke lokasi meminta awak media menanyakannya langsung pada BNN pusat.

Kata Daniel, pihaknya hanya mengamankan lokasi.

"Silakan tanya ke BNN saja. Kami hanya mengamankan lokasi," ungkap perwira berpangkat satu melati emas di pundak itu.

Hingga berita ini dikirim, belum ada keterangan resmi dari BNN.

Belum diketahui apakah tersangka lainnya langsung diboyong ke Jakarta atau dititipkan di BNNP Sumut.





Follow by Email